Kisah Pahlawan Lokal Bengkulu: Thomas Parr dan Peristiwa Pembunuhannya Tahun 1807

beda - Sejarah kolonial Bengkulu tidak bisa dilepaskan dari kisah seorang tokoh Inggris bernama Thomas Parr, residen terakhir Inggris yang menjabat di Bencoolen (Bengkulu) pada awal abad ke-19. Sosok ini menjadi simbol ketegangan antara kekuasaan kolonial dan perlawanan rakyat lokal, yang berpuncak pada peristiwa pembunuhannya pada tahun 1807. Peristiwa itu menjadi salah satu tonggak perlawanan rakyat Bengkulu terhadap kolonialisme Eropa di Nusantara.

Thomas Parr diangkat menjadi Residen Inggris di Bengkulu pada April 1805, menggantikan Richard Birch Gascoigne. Di bawah pemerintahannya, Inggris berusaha memperluas pengaruh ekonomi dan politik di pesisir barat Sumatra, terutama dalam perdagangan lada dan kopi. Namun kebijakan Parr yang keras, arogan, dan seringkali meremehkan adat serta hak masyarakat setempat menimbulkan kebencian mendalam di kalangan rakyat Bengkulu.

Timeline Kisah Thomas Parr dan Perlawanan Rakyat Bengkulu

1805 – Thomas Parr diangkat sebagai Residen Inggris di Bengkulu.

1806 – Diterapkan kebijakan tanam paksa kopi dan intervensi adat lokal.

23 Desember 1807 – Thomas Parr dibunuh oleh rakyat di Mount Felix (Bukit Palik).

1808 – Inggris membangun Tugu Thomas Parr sebagai simbol kekuasaan kolonial.

Kini – Tugu Thomas Parr menjadi Cagar Budaya dan simbol perlawanan Bengkulu.

Salah satu kebijakan yang paling menimbulkan gejolak adalah tanam paksa kopi. Parr memerintahkan masyarakat untuk menanam dan menyerahkan hasil kopi kepada pemerintah kolonial Inggris dengan harga yang ditentukan secara sepihak. Selain itu, ia juga mencampuri urusan adat dan politik lokal, bahkan berusaha menghapus beberapa tradisi masyarakat Bengkulu yang dianggap tidak sesuai dengan “standar Eropa”. Tindakan itu dianggap menodai martabat dan kedaulatan masyarakat adat.

Ketegangan semakin meningkat ketika Parr mengurangi kekuasaan pemimpin lokal dan menyingkirkan pasukan Bugis yang selama ini menjaga keamanan wilayah. Ia juga menolak mendengarkan keluhan rakyat atas penderitaan ekonomi akibat kebijakannya. Semua itu membuat kemarahan rakyat Bengkulu mencapai puncaknya pada akhir tahun 1807.

Pada malam 23 Desember 1807, sekelompok rakyat yang dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal menyerbu kediaman resmi Thomas Parr di kawasan Mount Felix (Bukit Palik), sekitar tiga mil dari Benteng Marlborough. Dalam serangan mendadak itu, Parr tewas ditikam oleh para penyerang. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai pembunuhan Thomas Parr, yang oleh rakyat Bengkulu dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan kolonial Inggris.

Pembunuhan ini memicu kemarahan besar di kalangan pejabat Inggris. Sebagai balasan, pasukan Inggris membakar rumah-rumah warga dan menghancurkan kampung-kampung di sekitar Bengkulu. Banyak rakyat tak berdosa menjadi korban akibat tindakan represif tersebut. Meski demikian, bagi masyarakat Bengkulu, peristiwa itu menjadi simbol keberanian rakyat menentang penjajahan.

Setahun kemudian, pada tahun 1808, pemerintah Inggris mendirikan Tugu Thomas Parr sebagai bentuk penghormatan kepada residen yang tewas terbunuh. Namun ironisnya, tugu yang awalnya dimaksudkan untuk mengenang pejabat kolonial itu justru menjadi simbol perlawanan rakyat Bengkulu. Bangunan bergaya arsitektur Eropa ini berbentuk segi delapan (oktagon) dengan kubah di atasnya, berdiri megah di kawasan Pasar Melintang, hanya sekitar 170 meter dari Benteng Marlborough.

Tugu itu kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan “Kuburan Bulek”, karena bentuknya yang bundar dan berbeda dari makam-makam biasa. Dalam pandangan masyarakat, tugu itu bukan sekadar makam seorang pejabat asing, melainkan penanda dari semangat rakyat Bengkulu yang berani melawan ketidakadilan. Hingga kini, situs ini masih berdiri sebagai Cagar Budaya Nasional, menjadi bagian penting dari identitas sejarah Kota Bengkulu.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa pembunuhan Thomas Parr bukanlah tindakan kriminal semata, melainkan reaksi terhadap penindasan dan campur tangan berlebihan dalam adat lokal. Dalam konteks perjuangan bangsa Indonesia, peristiwa ini dapat dipandang sebagai salah satu bentuk perlawanan awal terhadap kolonialisme Inggris di wilayah Sumatra.

Bagi masyarakat Bengkulu modern, kisah Thomas Parr tidak hanya dipahami sebagai tragedi, tetapi juga sebagai pelajaran sejarah tentang keberanian dan harga diri. Pemerintah daerah Bengkulu menjadikan Tugu Thomas Parr sebagai lokasi edukasi sejarah dan wisata budaya yang mengingatkan generasi muda pada perjuangan leluhur mereka.

Kisah ini menjadi bukti bahwa semangat perlawanan terhadap penjajahan tidak hanya terjadi di Jawa atau Maluku, tetapi juga tumbuh kuat di pesisir barat Sumatra. Thomas Parr mungkin datang sebagai pejabat kolonial dengan misi ekonomi, tetapi kematiannya menjadi simbol kemenangan moral rakyat Bengkulu dalam mempertahankan martabat dan kedaulatan adat mereka.

Kini, monumen itu tidak lagi sekadar batu nisan seorang residen asing, tetapi menjadi simbol bahwa kekuasaan yang menindas akan selalu mendapat perlawanan. Sejarah Thomas Parr dan rakyat Bengkulu mengajarkan bahwa keberanian menolak ketidakadilan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Sumber:

Binkalogi

Hariyanto a.k.a Binkalogi

Crypto Blogger & NFT Artist
Creator of idcrypt.xyz & ARDION

@4rtbinka LinkedIn
Bitcoin Starter Pack

The Bitcoin Starter Pack

✅ PDF eBook
$5

Buy Now

Komentar

Berita Terbaru — MOEDA COMMUNITY